Senin, 06 Oktober 2014

Khutbah KH Cholil Ridwan: Jika tak Berjuang, Betawi Muslim akan Seperti Aborigin dan Indian

Khutbah KH Cholil Ridwan: Jika tak Berjuang, Betawi Muslim akan Seperti Aborigin dan Indian

Jakarta (SI Online) - Umat Islam jika ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri maka mereka harus berjuang sebagaimana perjuangan Hajar, istri Nabi ibrahim, yang kala itu atas perintah Allah Swt ditinggalkan hanya berdua dengan bayinya di Makkah yang tandus. Perjuangan Hajar untuk mempertahankan kehidupan itulah yang mesti menjadi contoh bagi umat Islam kini.

"Musuh Islam berjuang dan berhasil itu hak mereka. Kenapa Bali gubernurnya harus Hindu, Papua dan Sulawesi Utara harus Kristen, itu perjuangan mereka," kata Ketua MUI Pusat KH A Cholil Ridwan saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Pesantren Husnayain, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu pagi (04/10).

Sayangnya, sambung Kiyai Cholil, justru umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini yang belum mengerti sehingga meski mayoritas mereka dipimpin oleh orang-orang kafir. Dia menyebut Kalimantan Barat selama dua periode gubernur dan wakil gubernurnya non Muslim, Kalimantan Tengah gubernurnya non Muslim sudah dua periode, Kabupaten Kapuas bupatinya Kristen, demikian pula dengan kota Solo walikotanya Kristen, padahal semua wilayah itu mayoritas umat Islam.

"Paling celaka, paling menyakitkan DKI Jakarta, sebentar lagi gubernur DKI adalah non Muslim. Innalillahi wa innalillahi rajiun," ungkapnya.

Kiyai Cholil mengingatkan, dengan kondisi seperti sekarang jika umat Islam Betawi tidak berjuang, tidak menutup kemungkinan nasib mereka akan sama seperti suku Aborigin di Australia dan suku Indian di Amerika. Mereka bakal terpinggir dan tersisihkan.

Karena itu, untuk menyadarkan hal ini, menurutnya umat Islam harus paham tentang politik. Umat Islam tidak boleh phobi terhadap politik. Para ulamanya juga harus merebut kekuasaan politik. Karena demikianlah yang dicontohkan oleh ulama-ulama penerus Nabi. "Jadikan Jakarta ini warisan umat Islam," ungkapnya.

Umat Islam Nasionalis

Pada kesempatan yang sama Kiyai Cholil juga menjelaskan adanya dikotomi antara Islam dan Nasionalis. Pengelompokan umat Islam dengan istilah Islamis dan Nasionalis menurutnya tidak tepat. Sebab sejarah membuktikan bila pejuang-pejuang Islam di Indonesia, di mulai dari Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, hingga KH Hasyim Asy'ari, Bung Tomo, Mohammad Natsir dan sebagainya, mereka adalah tokoh-tokoh Islam yang nasionalis.

"Coba silahkan diriset ada berapa banyak tokoh Islam di makam-makam taman pahlawan. Siapa yang bilang pemimpin Islam tidak nasionalis?" tanyanya.

Dikotomi Islam dan Nasionalis itu menurutnya adalah taktik para musuh Islam supaya kelihatan bila Islam bertentangan dengan negara. Padahal, lanjut Kiyai Cholil, yang melahirkan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah seorang tokoh Islam, pemimpin Partai Masyumi bernama Mohammad Natsir yang terkenal dengan Mosi Integralnya.

"Tidak sopan, tidak pantas bila Natsir dikatakan tidak nasionalis, partai Islam tidak nasionalis, itu salah. Dikotomi Islam-Nasionalis itu salah. Yang ada adalah Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler," tambahnya. 

Bila merujuk pada partai politik yang ada, lanjutnya, maka PBB, PPP dan PKS adalah nasionalis Islam. Sementara PAN dan PKB sangat dekat dengan nasionalis Islam. Sedangkan yang lainnya adalah nasionalis sekuler.

red: shodiq ramadhan

Jakarta - Umat Islam jika ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri maka mereka harus berjuang sebagaimana perjuangan Hajar, istri Nabi ibrahim, yang kala itu atas perintah Allah Swt ditinggalkan hanya berdua dengan bayinya di Makkah yang tandus. Perjuangan Hajar untuk mempertahankan kehidupan itulah yang mesti menjadi contoh bagi umat Islam kini.

"Musuh Islam berjuang dan berhasil itu hak mereka. Kenapa Bali gubernurnya harus Hindu, Papua dan Sulawesi Utara harus Kristen, itu perjuangan mereka," kata Ketua MUI Pusat KH A Cholil Ridwan saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Pesantren Husnayain, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu pagi (04/10).

Sayangnya, sambung Kiyai Cholil, justru umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini yang belum mengerti sehingga meski mayoritas mereka dipimpin oleh orang-orang kafir. Dia menyebut Kalimantan Barat selama dua periode gubernur dan wakil gubernurnya non Muslim, Kalimantan Tengah gubernurnya non Muslim sudah dua periode, Kabupaten Kapuas bupatinya Kristen, demikian pula dengan kota Solo walikotanya Kristen, padahal semua wilayah itu mayoritas umat Islam.
"Paling celaka, paling menyakitkan DKI Jakarta, sebentar lagi gubernur DKI adalah non Muslim. Innalillahi wa innalillahi rajiun," ungkapnya.

Kiyai Cholil mengingatkan, dengan kondisi seperti sekarang jika umat Islam Betawi tidak berjuang, tidak menutup kemungkinan nasib mereka akan sama seperti suku Aborigin di Australia dan suku Indian di Amerika. Mereka bakal terpinggir dan tersisihkan.

Karena itu, untuk menyadarkan hal ini, menurutnya umat Islam harus paham tentang politik. Umat Islam tidak boleh phobi terhadap politik. Para ulamanya juga harus merebut kekuasaan politik. Karena demikianlah yang dicontohkan oleh ulama-ulama penerus Nabi. "Jadikan Jakarta ini warisan umat Islam," ungkapnya.

Umat Islam Nasionalis

Pada kesempatan yang sama Kiyai Cholil juga menjelaskan adanya dikotomi antara Islam dan Nasionalis. Pengelompokan umat Islam dengan istilah Islamis dan Nasionalis menurutnya tidak tepat. Sebab sejarah membuktikan bila pejuang-pejuang Islam di Indonesia, di mulai dari Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, hingga KH Hasyim Asy'ari, Bung Tomo, Mohammad Natsir dan sebagainya, mereka adalah tokoh-tokoh Islam yang nasionalis.

"Coba silahkan diriset ada berapa banyak tokoh Islam di makam-makam taman pahlawan. Siapa yang bilang pemimpin Islam tidak nasionalis?" tanyanya.

Dikotomi Islam dan Nasionalis itu menurutnya adalah taktik para musuh Islam supaya kelihatan bila Islam bertentangan dengan negara. Padahal, lanjut Kiyai Cholil, yang melahirkan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah seorang tokoh Islam, pemimpin Partai Masyumi bernama Mohammad Natsir yang terkenal dengan Mosi Integralnya.

"Tidak sopan, tidak pantas bila Natsir dikatakan tidak nasionalis, partai Islam tidak nasionalis, itu salah. Dikotomi Islam-Nasionalis itu salah. Yang ada adalah Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler," tambahnya.

Bila merujuk pada partai politik yang ada, lanjutnya, maka PBB, PPP dan PKS adalah nasionalis Islam. Sementara PAN dan PKB sangat dekat dengan nasionalis Islam. Sedangkan yang lainnya adalah nasionalis sekuler.

Sumber : SI Online

Terkait :   
   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar