Selasa, 03 Januari 2012

Mengembalikan Kemuliaan Umat Islam

 

من كانَ يُرِيْدُ العِزّةَ فَللهِ العِزّةُ جَمِيعًا, إلَيهِ يَصْعَدُ الكَلِمُ الطَّيِّبُ و العَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ, والّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ

 لهم عَذَابٌ شَدِيدٌ, ومَكْرُ أُوْلَئِكَ هُو يَبُورُ (فاطر  : 10 )


“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nya-lah  naik perkataan-perkataan yang baik (semua yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya), dan amal yang sholeh dinaikkannya.  Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi  mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”

        Tolok ukur kemuliaan dalam pembahasan ini adalah kemuliaan menurut pandangan Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan berdasarkan pandangan manusia. Karena jika agama ini dibangun berdasarkan pendapat akal manusia,  ada kalanya manusia menganggap/menilai  terhadap seseorang itu “mulia”  namun kenyataannya menurut ukuran Allah ternyata orang itu  “hina”,  sehingga Allah Ta’ala menghinakannya. 

Adakalanya  suatu kaum membesar-besarkan atau memuliakan  seseorang pada suatu waktu,  namun  ketika zaman telah berubah dan rezim-pun berganti orang tersebut dihina dan dicaci-maki  oleh kaum itu sendiri, sehingga nampak di tengah-tengah masyarakat saat ini bahwa, ada sesuatu yang hilang pada diri ummat, yaitu tolok ukur untuk menentukan standar “kemuliaan” atau “kehinaan”. Berdasarkan  firman Allah pada ayat di atas, nilai kemuliaan itu seluruhnya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian juga penilaian terhadap hina atau rusaknya suatu ummat atau generasi juga ditentukan oleh Allah Swt.

Orang-orang yang memiliki perkataan terpuji, beriman dan beramal sholeh adalah orang yang mulia di sisi Allah Swt, sementara orang-orang yang makar kepada Allah dan berbuat kerusakan dinilai oleh Allah sebagai kejahatan. Dan sesuatu yang telah dinilai Allah terpuji hingga hari kiamat dinilai terpuji,  namun jika Allah menilai sesuatu itu tercela, maka hingga hari kiamat sesuatu itu tetap tercela/terhina.

Berbakti kepada kedua orang tua  misalnya adalah terpuji, maka hingga hari kiamat bernilai terpuji, sementara itu mencuri/korupsi adalah perbuatan tercela maka hingga hari kiamat perbuatan itu tercela menurut pandangan Allah Swt, berdakwah adalah terpuji, sementara berkhianat adalah tercela, dan seterusnya.

        Adapun gambaran  terhadap orang-orang yang memiliki derajat  mulia di sisi  Allah Swt adalah generasi para sahabat dan para pengikut yang setia mengikuti sunnah-sunnah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firmannya :
…رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ, ذالِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبّهُ (البيّنة : 8 )
“…Allah ridha terhadap mereka (para sahabat dan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh),  mereka-pun ridha kepada-Nya. Demikian itu adalah (balasan)  bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (al-Bayyinah [98]:8)
إنّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أتْقَاكُمْ , إنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.”
 (al-Hujuraat [49]:13)

        Sehingga upaya mengembalikan kemuliaan ummat pada saat ini, di mana ummat dalam kondisi pada titik nadzir (generasi yang paling buruk) dibandingkan dengan genarasi sebulumnya,  karena tidak pernah ummat Islam generasi sebelumnya mengalami keadaan  seperti yang yang terjadi pada saat ini, yakni jauhnya ummat dari pemahaman pemikiran Islam  secara menyeluruh (syumuliyah),  sehingga hampir sulit membedakan dan mengenal perilaku ummat ini mana dintaranya yang beriman dan yang kafir, karena tingkah laku, sikap dan perkataan  mereka hampir serupa.

Kecuali hanya sedikit terhadap orang-orang  yang telah dikecualikan oleh Allah Swt, begitu pula tidak diterapkannya sistem dan hukum Islam di tengah-tengah masyarakat, sehingga menambah kehancuran dan kehinaan generasi saat ini, maka upaya untuk mengembalikan kemuliaan ummat  pada saat ini tidak lain harus mencontoh Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, yaitu dengan cara menjadikan ummat generasi saat ini memiliki kesadaran Islam dan terikat dengan aturan-aturanya, baik dalam bertingkah laku ataupun perkataannya,  serta berusaha mewujudkan sistem hukum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dengan menerapkan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

        Untuk mewujudkan kedua target di atas, Rasulullah telah mencontohkan keberhasilannya dengan aktifitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang harus dilakukan oleh segenap kaum muslimin maupun muslimat, meskipun teror dan penculikan-penculikan serta penganiayaan terhadap para pengemban dakwah  tengah terjadi saat ini, karena Rasulullah telah memberikan pilihan kepada kita ; ingin hidup Mulia ?  ataukah terhina ?  sabda Rasulullah :
لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنكَرِ  اَوْ لَيُسَلِّطَنَّ عَلَيكُمْ شِرَارَكُمْ , فَيَدْعُوا خِيَارُكُمْ فَلاَ يُسْتَجابُ لَهُمْ
“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan harus mencegah mereka  dari kemungkaran,  Bila tidak demikian,  pastilah Allah akan menjadikan orang-orang jahat untuk menguasai kalian. Dan orang-orang terbaik di antara kalian berdo’a (untuk keselamatan),  maka do’a mereka tidak dikabulkan.” (HR al-Bazzar dan Thabraniy)
        Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala  mengancam kepada suatu kaum yang tidak berjuang dan berdakwah menyampaikan  risalahnya di tengah-tengah masyarakat maka Allah akan menimpakan berbagai macam fitnah yang tidak hanya menimpa  bagi orang yang berbuat saja tetapi akan ditimpakan juga bagi suatu kaum yang tidak mau mencegah perbuatan mereka, sebagai mana firman-Nya :
واتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَةً , وَاعْلَمُوا أنّ اللهَ شَدِيدُ العِقاب
“Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang dzolim saja di antaramu. Dan ketahuilah, sesungguhnya siksa Allah itu sangat keras.” QS al-Anfal : 25

Rasulullah menjelaskan dan mengingatkan ayat tersebut, dengan peringatan yang keras, sebagaimana sabdanya : “Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran, sedangkan mereka tidak berusaha mencegahnya, maka tunggulah saat Allah akan menurunkan adzabNya secara menyeluruh.” ( HR. abu Dawud)



 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar