Rabu, 21 Desember 2011

Adam Ibrahim, Pertama Pergi ke Mesir untuk Berbisnis, Kali Kedua demi Mencari Guru Agama


 Bekerja di perusahaan software dirasakan Adam Ibrahim telah menuntunya menerima banyak karunia. Anugerah paling besar bagi pria asal Finlandia itu adalah memeluk Islam. Agama yang telah dianutnya sejak tahun 2000-an kini merasuk betul ke dalam hatinya.

Ia pertama kali mendengar tentang Islam tahun 1999. Ia bertemu dengan seorang wanita Mesir di chat room. Si wanita ini begitu penasaran tentang perangkat nirkabel. Keduanya lantas sering berdiskusi tentang solusi nirkabel dan teknologi di masa depan.

Tapi, sepanjang ‘obrolan’ itu pula Adam Ibrahim justru banyak bertanya tentang Islam. Ia penasaran bagaimana si wanita bisa mengimani agama itu. Beruntung, wanita itu cukup sabar dan mau menjelaskan pertanyaan yang diajukan oleh Adam. Adam banyak menanyakan seputar perbedaan anatara Islam dan Kristen.

Kehidupan beragama Adam dipupuk oleh sang ibu. Wanita yang melahirkannya ini adalah penganut Kristen yang taat. Ibunya memiliki dedikasi mendalam pada kehidupan spiritualnya. Adam cukup bisa melihat bagaimana sang ibu mewariskan seluruh keyakinannya pada anaknya itu.

Namun, melihat sikap dan kasih sayang ibu, jutru membuatnya lebih terbuka dalam mencari makna sejati dari kehidupan. “Sebelum Islam, saya bisa dianggap sebagai orang Kristen. Tapi sebenarnya saya cuma agama KTP,” kata Adam.

Ia mengaku sebelumnya tidak percaya kepada Tuhan. Ia tak pernah mengimani Tuhan pembuat dan pencipta takdirnya. “Aku pikir lebih baik mengatur nasibku sendiri daripada Tuhan yang mengaturnya,” kata dia. Sebelum mengenal Islam, bisa dibilang, ia hidup dengan aturan sendiri.

Para pebisnis menghilang selama 15 menit! Apa yang mereka lakukan?

Ketika bekerja di perusahaan software, ia berkenalan dengan banyak orang muslim. Hubungan bisnis yang terus berkembang membuat ia berkesempatan untuk pergi ke Kairo. Kebetulan, ketika itu bertepatan dnegan bulan Ramadhan. “Semua orang disana berpuasa, dan kami juga menghormati dengan tidak makan minum,” kata Adam. Satu hal yang cukup menggelitiknya selama di Kairo adalah para pebisnis itu sering menghilang selama 15 menit dalam waktu-waktu tertentu. Baginya itu sangat aneh.

Saat di Kairo untuk bisnis, ia bermitra dengan seseorang di bagian pemasaran dari salah satu perusahaan terbesar di Kairo . Ia menginap di rumah seseorang bernama Noha. Mereka kerap berdiskusi mengenai cara mengintegrasikan solusi nirkabel ke pasar bawah di Kairo.

Ketika malam hari mereka berdiskusi tentang presentasi yang akan dibawakan. “Saya menyadari bahwa pada waktu tertentu dalam sehari, ia (Ms Noha) sering menghilang dan tiba-tiba kembali sekitar 15 menit kemudian,” ujar dia.

Setelah beberapa hari melihat itu, ia memutuskan untuk bertanya hal penting apa yang harus Noha lakukan selama 15 menit sehingga harus menunda persiapan presentasi. “Dengan malu-malu, dan setelah tak bisa menghindari pertanyaan, Ms Noha mengatakan dia melakukan shalat. Ia shalat di waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan oleh agama,” katanya. Perasaan jengkel pada awalnya sebab waktu diskusi sering tertunda berubah menjadi rasa kekaguman.

Sejak saat itu, ia yang tak pernah percaya Tuhan mengatakan ingin memiliki perasaan pentingnya Tuhan dalam hidup. Perlahan, ia mulai bertanya lebih banyak tentang Islam.

Noha tidak pernah mendorong tetapi membimbing saya ke arah mana ia bisa menemukan informasi yang saya perlu belajar lebih banyak. Saat kunjungan bisnis itu selesai, Adam akhirnya meninggalkan Kairo dengan keinginan membara untuk belajar Islam. Ia membawa sebuah koper berisi buku demi mendinginkan dahaganya terhadap ilmu.

Setelah meninggalkan Mesir, pada akhir Maret 2001, Adam berkesempatan lagi untuk mengunjungi Kairo. Tapi kali ini tujuannya bukan berbisnis melainkan mencari guru agama. Ia bertanya tentang semua hal yang telah ia baca sebelumnya.

Waktu berlalu begitu cepat. Ia merasa tak cukup membincangkan Islam hanya waktu sehari saja. Ketika itu, ia juga datang untuk alasan bisnis. Satu hal yang ia rasakan, ia sudah mulai jatih cinta pada Islam. Ia merasa hatinya telah menjadi hangat. Ia merasa menjadi orang baik.

“Seolah-olah Allah adalah membuka hati saya untuk sisi lain kemanusiaan yang saya tidak pernah tahu sebelumnya,” kata dia. Ia merasa telah menemukan sebuah rumah di Timur Tengah.

Enam bulan berlalu, perusahaan tempat ia bekerja menunjukkan gejala kebangkrutan. Tapi, ia masih ingin tetap pergi ke Kairo. Bukan untuk urusan bisnis, tapi untuk melanjutkan belajar dan bertanya.

Akhirnya, pada suatu malam musim panas yang hangat, sambil berselancar di Internet, sebuah pencerahan tiba-tiba datang. Ia merasa tak ingin lagi melanjutkan hidup sebagai manusia tanpa Tuhan. Ia merasa banyak orang berbicara, tentang melihat cahaya, atau mendengar suara. Ia seolah seperti melihat pertunjukan teatrikal, lebih dari sekedar bisikan namun sesuatu yang bisa membuka hatinya.

“Aku ingin berteriak, berteriak, menangis, menari, berlari, tertawa semua pada waktu yang sama. Aku punya banjir lengkap dari emosi yang sampai hari ini, saya tidak bisa menjelaskan. Beberapa hal lebih baik dinikmati ketimbang dianalisis,” kata dia. Adam lalu mengirimkan email kepada Noha lalu menceritakan apa yang ia rasakan dan menanyakan apa yang seharusnya dilakukan. Noha menyarankannya untuk tetap rileks dan mengumpulkan perasaannya.

Kembali lagi ke Kairo

Kesempatan untuk datang ke Mesir kembali menghampiri Adam. Ia bekerja sebagai konsultan di perusahaan Mesir untuk bidang pemasaran. Ia berteman dengan orang muslim. Semua itu membuatnya merasakan kehangatan suasana rumah.

Hatem, Hany dan Hisyam, mereka adalah sahabat Adam. Dua kawannya yang lain, Mohamad dan Sherief mengetahui Adam ingin tahu lebih banyak tentang Islam.

Mohamad lalu mengajak Adam ke kelompok pengajian laki-laki yang sednag membahas Alquran dan nabi Muhammad. Itu adalah pertama kalinya ia bergabung dan mendengar surat Alfatihah. “Saya tiba-tiba menangis ketika mendengar kata Allah. Seperti merasuk dalam hati saya,” kata dia.

Hari berikutnya,ia menceritakan semua yang ia rasakan kepada Hatem dan Sherief. Mereka sangat mendukung Adam memeluk Islam. Sementara itu, Adam masih memantapkan hati untuk agama Islam

Peristiwa 11 September 2001

11 September adalah peristiwa yang sangat penting. Setelah serangan, semua rekan kerjanya menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan bahwa semua itu bukan bagian dari islam. “Ini bukan Islam, tolong jangan berpikir bahwa Muslim adalah orang jahat,” begitu yang dikatakan teman-temannya.

Tak dipungkiri, Adam juga merasakan rasa sakit dan kesedihan. Peristiwa itupun sempat membuatnya berfikir Timur Tengah mungkin bukanlah tempat yang aman bagi orang Amerika. Tapi keimanannya kian mantap. Ia ingat alasan utamanya ke Timur Tengah, Kairo adalah untuk belajar Islam.

Tanggal 2 Oktober 2011, seorang teman mengajaknya untuk pergi ke masjid Al-Azhar. Disanalah, ia pertama kali mengucapkan syahadat. Ia berislam, beberapa pekan setelah insiden 11 September.
-----

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar